Lekaslah pulih, lekaslah normal.

May 14, 2020



Banyak orang bilang,

'lekaslah pulih, lekaslah normal'.

Namun memangnya,

Normal itu yang seperti apa?

Sudah dua bulan lebih kita berdiam diri di rumah. Atau mungkin ada yang baru bisa melakukannya selama satu bulan atau satu minggu. Atau bahkan, beberapa orang masih belum bisa untuk berada 'di rumah aja' demi pemenuhan kebutuhan primer setiap harinya.

Semuanya sama. Sama-sama bekerja dengan cara yang berbeda-beda, mencoba untuk tetap bertahan hidup di tengah kondisi pandemi yang bahkan tidak pernah terbayangkan sebelumnya.

Sejak kondisi ini, sepertinya hidup manusia sudah tidak akan lagi sama.

Rasanya, hidup hanya berputar di atas ranjang, lalu ke dapur, kemudian ke kamar mandi, atau hanya untuk sekedar duduk di teras rumah ditemani oleh pikiran kita sendiri. Terima saja.

Mungkin, ini saatnya kita untuk rehat dan berhenti sejenak. Kembali atur napas, hirup dan keluarkan.

Terima saja, jika kita harus terkurung di dalam sepetak apartment ukuran 25 meter persegi. Nyatanya, masing-masing jendela balkon menjadi terbuka lebar, manusia saling bernyanyi menghibur satu dengan lainnya.

Terima saja, atas berita ditutupnya rumah-rumah Tuhan. Karena lebih dari itu, Tuhan telah menggubah tiap-tiap rumah menjadi milikNya.

Aku harap, kita semua tidak akan pernah benar-benar merasa sendiri. Ada ribuan jiwa manusia lainnya yang juga melangitkan doa-doa yang sama;

'lekaslah pulih, lekaslah normal'.

Dan terima saja.

Bersama-sama, kita bisa menyembuhkan alam raya dan segala isinya apapun kondisinya.

Stay safe dan sehat selalu, teman-teman :)


14 Mei 2020
23.32
Quarantine Month 2

You Might Also Like

6 comments