Jangan Gila!

By Selma Garuda - June 11, 2018


C E R I T A   F I K S I


Now Playing : Kodaline - All I Want

Januar.

Hari ini tanggal 28, aku akan pergi melamarmu! Doakan aku ya Ci!

Message Sending...

Ah, rasanya sudah lama sekali aku telah menantikan tanggal ini. Tanggal kami berdua.
Aku dan dia. Satu-satunya wanita yang paling aku cinta. Tanggal dimana telah direncanakannya sesuatu yang besar dalam sejarah!

Bagaimana tidak? Karena hanya dialah satu-satunya orang yang aku punyai. Ehm. Tepatnya... akan kupunyai.

Percayalah, aku sudah tidak memiliki siapapun lagi di dunia ini.

Sejak lahir, aku tidak tahu siapa ayahku. 

Dan Ibuku meninggal beberapa tahun lalu. Tepat disaat aku bertanya "Sebenarnya aku anak siapa?"

Dan dengan terbata dia menjawab "Anak seorang perempuan"

Yang kemudian disusul dengan helaan panjang. Seraya ia pergi meninggalkanku beserta jasadnya yang masih ternganga-nganga. Aku menangis sekeras apa yang aku bisa. Tapi tidak ada yang mau peduli. Mereka serasa tidak mempunyai telinga!

Kecuali ia.

Di saat sulit itu, aku harus bekerja siang malam untuk membiayai utang ibuku. Ah sayangnya, aku malah salah jalur! Entah apa yang ada dalam fikiranku kala itu. Yang pasti, heroine hanya membuatku tenang untuk sementara saja. Malah membuatku tersiksa selamanya untuk menjadi seorang pecandu!

Bisa kau lihat kan, sebagaimana kacaunya aku waktu itu!

Namun ia,

Dia datang disaat aku sedang dalam kondisi kacau-kacaunya. Dan tidak ada hal yang membuatnya takut disaat semua orang memandangku tidak lebih hanya sebagai seonggok sampah.

Kemudian dia membantu untuk memulihkanku. Benar benar deh... Mungkin jika dunia ini adalah neraka, dia akan menjadi sosok malaikat penyelamat yang dengan rela terjun kedalamnya hanya untuk menyelamatkanku.

Buktinya, ia selalu sukses untuk menenangkanku dengan kalimat sederhananya, "Tenang saja, ada aku"

Dan selain membuatku tenang, ia juga berhasil membuat hariku menjadi kembali berwarna. Setidaknya, menjadi ada secercah harapanku untuk hidup.

"Eci, tunggu aku ya. Sebentar lagi kamu akan menjadi milikku!"

Sudah kukenakan jas hitam necis beserta pita kupu-kupu dikerahnya. Tidak lupa dengan sekuntum bunga mawar yang kuselipkan disakunya. Kulihat wajahku di kaca restoran yang tidak sengaja aku lewati menuju perjalanan. Kurapih-rapihkan rambut klimisku.
Sempurna!

Namanya Eci. Hari ini, 28 April, aku akan melamarnya.

---


Lorensi

"Mas, kok macet?"

Aku mengecilkan volume musik klasik yang sedang kami putar, menyadari bahwa mobil yang kami kendarai perlahan berhenti. Di depan sana terdapat keramaian,  sumber kemacetan.

"Kayaknya ada kecelakaan nih" Suamiku menggeleng tidak yakin.

Kami sedang menuju perjalanan menuju sebuah konser Kodaline, band yang aku idolakan sejak remaja. Suamiku menjemputku dari kantorku beberapa jam yang lalu, yang setelahnya kami lanjutkan dengan dinner di sebuah restoran. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kami. Sudah 3 tahun lamanya kami menjadi sepasang kekasih dan semoga akan terus bertambah. Sudah sepatutnya momen bahagia ini kami rayakan.

Dan kami dihentikan oleh sebuah keramaian yang kamipun belum mengetahui secara pasti apa penyebabnya.

Sebelumnya Suamiku bertanya kepada pengendara motor tidak sengaja melewati mobil kami. Katanya sumber keramaian tersebut dikarenakan oleh adanya sebuah kecelakaan kecil.

Tentu saja kami tidak langsung mempercayainya. Buktinya, mobil ini tidak juga kembali bergerak sejak 5 menit yang lalu.  Disertai dengan bunyi klakson tidak sabaran yang bersahut-sahutan tanpa henti.
Ditambah dengan gerimis kecil yang mulai ikut membaur membasahi kota.

"Duh kasihan sekali korbannya, lagi genting gini kok malah hujan" Ujar suamiku.

Aku menghela nafas seraya menimpali "Biarin aja kenapa sih mas, bisa saja hujan ini turun karena langitpun ikut berduka melihat kejadiannya kan ? Kamu ngumpat ginipun juga gabakal bisa buat hujannya reda" Suamiku terdiam.

10 menit berlalu, keadaan di luar sana tidak bertambah baik. Bisa-bisa kami ketinggalan konser Kodaline itu nih! Seharusnya kami sudah sampai di tujuan beberapa menit yang lalu.

Melihat wajah gelisahku, suamikupun ikut gelisah.

Padahal, akupun tidak begitu yakin, gelisahku ini dikarenakan oleh ketakutanku terlambat konser,

atau karena hal lain.

Sampai akhirnya ia berkesimpulan, "Aku mau liat dulu aja deh, sebenernya kecelakaan apa sih itu, bikin macet aja! Kalo emang masih lama, kita naik ojek aja ya!  Kamu disini dul.."

"Aku ikut!" teriakku memotong.
"...kamu ngga boleh sendiri" lanjutku meyakinkan suamiku.

Berbagai alasan yang suamiku lontarkan untuk membuatku tetap berada di dalam mobil. Namun berbagai alasan pula secara frontal aku keluarkan dari mulutku agar aku tetap berada di sisi suamiku.

Rasanya ada sesuatu hal yang membuatku gelisah, takut, khawatir. Entah apa itu.

Suamikupun akhirnya mengalah.

Kemudian ia mengeluarkan payung dan segera bergegas menuju ke TKP.

Benar saja, puluhan orang sedang mengelilingi TKP, menjadikan kami tidak bisa bisa melihat kejadian apa yang ada di seberang sana. Namun kami berusaha untuk mencari celah agar bisa menuju ke barisan yang paling depan. Sampai seorang pria separuh baya dengan segera menghentikan kami. Bajunya basah kuyup karena hujan.

"Mba! Sebaiknya mba dan mas ngga usah masuk! Parah deh, jangan dilihat, bikin rusak mental!" Teriaknya, agar suaranya terdengar disela suara hujan dan juga bising kota.
"Tenang aja, udah ada yang telpon polisi kok! Bentar lagi juga paling diangkut, dan jalanan bakal lancar lagi mas, mba!"

"Kalau boleh tahu, kecelakaan apa ya pak?" tanya suamiku.

"Kecelakaan truk tronton dengan orang gila mas!" jawabnya. Logat betawinya terdengar kental. "Saya tukang becak di daerah sini mas, mba!"

"Dia adalah orang gila yang setiap tanggal 28 pasti akan berlaku aneh mba, mas. Kematiannya bikin macet total! Orang ga ada yang mau ngurus jasadnya sih, kasian juga sih ye"

Aku mulai penasaran.
"Aneh? Aneh bagaimana pak?" 

"Yaah, walaupun orang gila, dia itu pinter mba! Karena setiap tanggal 28, orangnye bakal pinjem ces ces an hape cliring ! Trus pake jas hitam kumuh lengkap dengan bunga mawar layu di sakunya. Yang ntah dari kapan disimpenin sampe bentuknye dah ga karuan lagi tuh!" ujarnya menye-menye. "Kata orang-orang, tanggal 28 adalah hari dimana dia niatnya mau ngelamar! Tapi ditolak! Karena wanita yang ia idam-idamkan itu terlanjut dijodohin pria mapan lain sama bapaknye!" lanjutnya. Jantungku berhenti. Aku menelan ludah.

28 April. Ulang tahun pernikahanku.

"Trus kalo dia lagi digrebek polisi, dia bakal ngelantur sendiri 'Eci pasti datang, Eci pasti datang' gitu mas, mba! Tau deh siape tu yang namanya Eci Eci"

Januariku.

Aku tidak menanggapi. Tubuhku bergetar. Mataku memanas.

Di sini musik khas dari band Kodaline terdengar samar-samar memainkan lagu All I Want. Konser yang berada tidak lebih dari 2 km itu tampaknya sudah dimulai. Tapi persetan !

Yang aku perlu sekarang hanyalah melihat si jenazah yang ada di depan sana. Aku tinggalkan suamiku beserta payungnya. Kubiarkan air hujan mengguyur seluruh tubuhku. Sampai akhirnya aku berada di barisan paling depan.

Dan terus melaju sampai menerobos garis polisi. Itu membuatku disaksikan oleh puluhan orang, tapi aku tidak peduli.

Kudengar sayup sayup suara suamiku memanggil namaku dari belakang. Berusaha menyusulku. " Lorensi!"

Dan aku diberhentikan oleh seorang polisi. "Maaf,  ibu sedang apa?!"

Aku tidak peduli. Aku terus melaju mendekati truk yang posisinya sudah merebah dengan reruntuhan kaca yang tersebar disekitarnya.

"Cari apa bu?!!" Tangannya menggapai pundakku, berusaha menghentikanku.
Yang kemudian dengan tegas kulemparkan begitu saja karena merasa terganggu. Bukan urusanmu!

Namun akhirnya dia dengan sigap menangkap pergelangan tanganku dan berteriak tepat didepan wajahku.

"Ibu!" tekannya.

"..."

"Jenazahnya sudah dibawa bu!"

...

Aku berhenti.

Lututku lemas. Wajahku panas. Rasanya ingin pingsan!

Aku menangis sejadijadinya.

Karena yang aku lihat hanyalah sebuah sepatu hitam kumuh serta mawar layu didepanku.

Terpental sangat jauh dari truk yang masih terguling. Sisi depannya remuk, mungkin karena terhantam kaca restoran yang kini sudah hilang bentuknya. Menyisakan runtuhan kaca yang berhamburan disekitarnya.

Kulihat cairan merah di sisi roda, yang perlahan  segera dihapuskan oleh air hujan. Tak sanggup aku tuk membayangkan bagaimana kondisi tubuhnya sekarang berdasarkan hal hal yang telah aku lihat ini.

Suamiku menyusulku sampai akhirnya berada disebelahku. Berlutut didepanku berusaha menenangkanku. Ia cepat faham dengan semua perilakuku. Karena diapun turut ambil bagian dari keegoisan dan ketidakpedulian yang sudah aku lakukan selama ini.

Nyatanya, aku tidak seperti malaikat Jan. Dan kamu benar, bahwa dunia ini tidak lebih baik daripada neraka.

"Tenang saja dhe, ada aku"

Sambil menangis, aku menjawab perlahan kepada suamiku.

"Tapi aku Lorensi mas.. Rensi! Dan dulu biasa dipanggil Eci!"

Hanya aku, suamiku, dan hujan yang mendengarnya. Disertai dengan sorot mata puluhan orang yang pastinya sedang bertanya-tanya.

But If you loved me
Why did you leave me
Take my body
Take my body

Oh,
dan,

 aku mohon, Tuhan.

Biarkan Januar untuk mendengar,

Permintaan maafku.

Suamiku memelukku erat.

All i want is..
And all i need is..
To find somebody..
I'll find somebody..

Dengan mata buram, remang remang aku melihat sebuah ponsel jadul menyala disebelah roda truk.

Like you... ooo oooh...

36 Message failed.


inspriration from : Anak Seorang Perempuan by Joko Pinurbo.

  • Share:

2 comments