PLUVIOPHILE


# Finding Aliens?
April 16, 2018 / permalink


Sejak awal munculnya peradaban, manusia tidak pernah dibuat berhenti untuk takjub kepada langit. Itu membuatku teringat pada post salah satu kerabat. Yang mengatakan bahwa pada dasarnya, secara fitrakh, sama seperti jutaan tahun yang lalu, manusia memang akan selalu tertarik kepada hal-hal luar angkasa. Bukan hanya langit, namun seluruh alam semesta yang begitu luas ini.

Sepertinya, manusia zaman now memang perlu 'National Go Dark Day' sehingga mereka akan melihat bagaimana rupa langit yang sesungguhnya.

Dan kemudian, manusia berkembang. Mereka menjadi paham bahwa miliaran noktah-noktah kecil yang berkilau di langit itu adalah serupa dengan matahari. Dan mulai mengenali bahwa tempat yang mereka huni ini bernama bumi. Lebih lanjut lagi, mereka kemudian faham bahwa bumi yang mereka pijak ini adalah sebagian kecil dari alam semesta yang begitu luas.

Lalu, manusia menjadi mulai bertanya-tanya, "Apakah bumi hanyalah satu-satunya tempat yang mungkin untuk dihuni oleh makhluk hidup seperti kami?"

Pertanyaan pertanyaan tersebutpun dilontarkan oleh Enrico Fermi dengan omongannya yang terkenal "Is Anyone Out There?" Yang kemudian ketimpangan-ketimpangan tersebut dikenal dengan istilah Fermi Paradox.

Taufiq Hidayat, dosen astronomi ITB, mantan kepala Observasi Bosca di Lembang, salah satu orang Indonesia yang namanya dijadikan menjadi nama asteroid ini menyatakan bahwa terdapat 2 pendapat mengenai keberadaan alien. Dua pendapat tersebut adalah pendapat optimis dan pendapat pesimis.

Image result for bosca lembang
Yang udah nonton Petualangan Sherina pasti tahu nih!

Pendapat optimis meyakini bahwa kehidupan di luar bumi ini sangat banyak, karena di Galaksi Bima Sakti sendiri saja banyak bintang yang menyerupai matahari dengan planet-planet yang mengelilinginya.

Sementara itu, pendapat pesimis menyatakan harus ada tempat yang benar-benar spesifik untuk menopang adanya kehidupan. Contohnya adalah bumi dengan segala keistimewaannya.

Pada tahun 1961, Frank Drake menyatakan Persamaan Drake untuk menentukan kemungkinan jumlah peradabaan yang ada dalam Galaksi Bima Sakti. Yang intinya, ada 2 peradaban alien yang mencoba untuk menghubungi kita. Sementara 200 peradaban alien lainnya tidak ingin atau tidak bisa menghubungi kita.

Namun seperti yang sudah disebutkan diatas, Enrico Fermipun mempertanyakan bahwa, jikalau ada banyak kehidupan cerdas yang melimpah ruah di luar bumi ini, mengapa bukti-bukti fisiknya masih begitu kurang? 

Faktanya, penelitian yang sudah dilakukan sejak 40 tahun lalu, dimana lembaga antariksa AS (NASA) melalui program SETI nya yang mengirim sinyal radio ke luar angkasa (dengan harapan akan dijawab oleh sesuatu di luar sana) sampai hari ini belum mendapatkan balasan.


Image result for nasa SETI


Dari banyaknya penelitian yang berusaha untuk mendongkrak keingintahuan tersebut, bagaimana jika ternyata, jawaban atau setidaknya isyarat dari semua pertanyaan tersebut sudah bernaung dalam rak-rak buku di rumah kita?

Zakariya Alqazwini, seorang ilmuwan Arab, penulis buku Aja’ib Almakhluqat wa Gharaib Almawjudat (yang menceritakan tentang seseorang dari planet lain yang mengunjungi bumi di masa depan) ini memperkuat posisinya dan mendapatkan inspirasi dari beberapa ayat Al-Qur'an. Contohnya dalam surat As-Syura ayat 29, dimana Allah berfirman

Dan di antara ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan)-Nya adalah penciptaan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata (dabbah) yang Dia sebarkan pada keduanya. Dan Dia Mahakuasa mengumpulkan semuanya apabila Dia kehendaki.”

Dimana kata langit dan bumi ini dapat dirtepresentasikan dalam banyak hal. kemudian Dabbatun yang artinya melata, dapat diartikan bahwa dia hidup. Hanya saja, menurut Akhsin, pendiri Ma'had Darul Qur'an menjelaskan bahwa belum pasti seperti apa bentuknya. Pendapat tersebut diiyakan oleh ahli tafsir Quraishi Shihab, bahwa kata Dabbah merujuk pada makhluk yang bergerak. Entah itu berakal ataupun jasad renik.

Jadi?
Bagiamana menurut kalian?
Apakah ada kehidupan lain di luar bumi kita?
Ataukah kita benar-benar sendirian di alam semesta yang begitu luas ini?
Bagaimana jika selama ini kita ternyata mencari sesuatu yang tak pernah ada?

Dan bagaimana jika ternyata, kita hanya melakukan insting untuk merusak diri sendiri dengan segala penelitian yang ada?

Hmmm
Kalau menurut aku sih, why not both?

Allah mempunyai sifat yang Al-Khalaaq yang berarti "yang terus menerus mencipta"

Jadi aku yakin bahwa di luar sana ada kehidupan lain, namun jumlahnya tidak melimpah ruah. 

Sounds good, isn't?

Labels: ,


0 comment(s) on current post.