PLUVIOPHILE


# JOGJA (part persiapan berangkat)
December 26, 2017 / permalink

Setelah akhirnya mendapatkan tiket, kita langsung cus buat cari penginapan. Kita semua saling tanya tanya info. Kalau aku mendapat info dari bude yang memang bertempat tinggal di Jogja. Aku disarankan untuk ke salah satu hostel di ngabean, harganya memang murah, 75000 per ranjang. Sedangkan salah satu teman smp (yang kakaknya berkuliah di Jogja) menyarankan agar kami mencari di daerah sosrowijayan. Namun rasanya jika kita mencari secara mendadak, yang dikhawatirkan adalah kita bisa kehabisan hostel.

Celin juga mendapatkan info dari makelar yang bertempat di belakang Hartono mall, namun kami rasa itu terlalu jauh ke destinasi tujuan wisata kami. Mantipun mendapatkan info dari teman-temannya lewat aplikasi airy. Jakol dan yang lainnya juga mendapatkan info dari google.
Niatnya, kita memang cari guest house, namun tidak ada yang klop. Ada yang terlalu mahal, ada yang terlalu jauh, dan menurut kesan pesan pengunjung, bahkan ada guest house yang kadang lampunya mati sendiri. Wkwkwk, serem kan.

So, kita merelakan pulsa untuk telfon kesana-sini sesuai info dari google. Ada yang satu malamnya 900.000, ada yang benar-benar sudah klop, namun ternyata penuh. Jadi malamnya, kita memutuskan untuk membooking hostel yang berada di wilayah ngabean, karena itu yang paling memungkinkan.
Paginya, setelah masalah penginapan dan tiket done, aku dan Manti secara japri membahas destinasi dan transport yang digunakan. Setelah membandingkan 2 aplikasi, ternyata grab adalah yang termurah.
Dan you know what?!

Siangnya, Ilma nge WA “Selma sel”
“Manti mau batalin tiket, kamu gimana?”
DEG.

Beberapa detik selanjutnya, Manti nge WA, dia ngejelasin semuanya.
Ya, orang tua Manti memang tipenya sedikit ga beda dengan Mama. Beliau mungkin khawatir akan anaknya yang bakal main jauh dengan anggota 4 cewe dan 4 cowo. You know what i mean.
Aku berusaha meyakinkan Manti “Dipikir pikir dulu Man, kita udah sampai sejauh ini”
Tapi Manti tetap keukeuh. “Ibuku bilang, aku lebih baik kehilangan uang sel..”
“..besok aku minta Ilma bawa tiketnya, aku mau batalin”
Ya mau gimana lagi ya? Kalau udah bersangkutpaut sama ridho orang tua, aku ngga berani. “Ya tahan dulu ya Man, nanti kita cari penggantinya biar kamu ngga terlalu rugi”
Dan Manti setuju.

Hari-hari selanjutnyalah, saat-saat untuk mencari pengganti Manti. Mulai dari anak kelas, saudara, 3 sahabat, sampai beberapa anak dari kelas lain yang hasilnya nihil. Ada yang berasalan,
“Aku ngga kenal Sell, ntar aku lalalolo”
“Aku juga udah pesen tiket ke Jogja bareng anak kelasku sendiri”
“Mager”
“ODD, sorry laa”
“Aku persiapan natal”
“Ada saudara, maaf yaa”
“Aku ngga boleh sama orangtuaku”
“Aku juga mau pulkam ke Jogja Sell”
Tetap. Tidak ada. Sampai akhirnya kita nyerah. “Yaudah kalau bertiga aja ngga papa kan yang cewe?”
“Iya nggapapa”
Malamnya aku memberanikan diri untuk menjelaskan semuanya kembali kepada Mama dan juga Ayah. Dan mereka akhirnya mengerti.

Sudah mengikhlaskan hal tersebut, H-3, Ayahku flu. Untuk mencegah tertularnya aku dari flu, maka aku bersiap untuk; makan banyak, minum banyak, tidur cukup, dan minum vitamin. Namunnnn, malam Sabtu, pukul 23.57, ranjangku bergetar, lampu di atasku bergoyang sangat kencang, dari arah dapur piring piring berbenturan.

“GEMPA!”

Ayahku (yang memang belum tidur) langsung bangkit dan menggendong adikku yang masih tidur. Kita bergegas untuk keluar dari rumah. But wait !
Adikku yang satu lagi masih ada di dalam kamar bersama mbak rewang!. Ayahku berbalik arah dan menggedor-gedor pintu kamar. Belum juga dibuka, pintu kamarnya kutendang sampai sedikit retak. Barulah mbak rewang muncul sambil menggendong adikku.
Kami semua penghuni rumah keluar ke halaman rumah tetangga. Dan saat kucari info, ternyata gempa berpusat di Sukabumi 6,9 SR.
Selanjutnya, terdapat info susulan berkaitan dengan potensi tsunami. Dan... Cilacap, tempat tinggalku, berpotensi tsunami, sama halnya dengan beberapa daerah lain seperti Cianjur, Garut, dan DIY. What? DIY?!

“Sel kita ngga bakalan kenapa kenapa kan ya disana”
“Nggatauuuu”

Kalau sudah berkaitan dengan yang diluar kuasa manusia, kita hanya bisa pasrah dan berdoa.
Besoknya Alhamdulillah tidak terjadi apa-apa, tidak ada susulan atau berita yang mengkhawatirkan terkait dengan bencana semalam. Namun, tampaknya badanku menjadi tidak enak karena semalam tidak bisa tidur sampai jam 3.

Aku sudah berusaha mencegahnya dengan makan banyak, namun tetap saja, sepertinya radangku semakin menjadi.
H-2, paginya Mama membawaku ke klinik dekat rumah. Aku diberi beragam obat untuk mencegah radangku agar tidak menjadi. Bagaimana kalau nanti akhirnya aku tidak ikut ke Jogja? Huwee gamau.
Malamnya aku berobat lagi ke dokter yang sudah tahu riwayat sakitku. Klinik dekat rumah sebenarnya hanya untuk antisipasi jika dokter yang ini tidak buka. Dan dokter memberiku beragam obat, tanpa disertai obat lambung.

Itu yang membuat H-1ku tidak tidur sama sekali.
Aku tidak tidur karena perutku terasa sakit. Mungkin karena terlalu banyak obat tanpa disertai dengan obat lambung kali ya. Semalam suntuk, aku hanya gulangguling kanan kiri, nyemil, nyoba tidur lagi, tapi tetap ngga bisa sampai ngga kerasa, ternyata sudah jam 4 pagi.

Yaudah, kugunain saja untuk sholat. Dan jam 5, akhirnya aku pergi ke stasiun diantar oleh Mama dan Ayah.

(Lanjut ke story berikutnya yaa)

Labels: ,


0 comment(s) on current post.