JOGJA (part pesen tiket kereta)

By Selma Garuda - December 23, 2017

GUYS I’M BACK!
One of my wishlist on 2017 that i posted at 1st January is actually come true! I’am so excited !

BUT! Perjalanan ini disertai oleh halang rintang yang tidak sedikit dan bisa dibilang cukup melelahkan.

Mulai dari yang pertama ketika kita akan menentukan jadwal keberangkatan dan pesertanya yang lamaaa banged.

Jadi, kita semua berembug, dan rencana awalnya ada 11 orang yang akan ikut, 6 cewe 5 cowo, namun dua teman cewe tidak bisa dengan tanggalnya, dan satu teman cowo tidak bisa karena ada kegiatan lain. Alhasil tinggal 8 yang tersisa. 4 cewe, 4 cowo (Aku, Ilma, Manti, Celin, Asa, Piyik, Temmy, dan Jakol). Walau ibuku memberi saran “Lebih banyak cewenya lebih baik”. Yea orangtuaku memang begitu. Namun Ayahku lebih fleksibel daripada Mama wkwkwk.

Karena itulah, aku berusaha untuk terbuka, memberitahu semua-muanya bahwa “Temen-temenku orangnya baik baik ma, pak”.

So, setelah fix dengan tanggal dan jumlah peserta, hari Senin, setelah selesai UAS, semua peserta menyetor uangnya kepadaku, dan kita ber5 + 1 teman lagi (Pia, yang cuma nemenin) berencana untuk membeli tiket. Kita parkir motor di rumah Temmy yang jaraknya dekat dengan stasiun. Selanjutnya kita pergi ke stasiun sambil jalan kaki. Dan sesampainya di stasiun kita ambil nomor antrian. Sembari menunggu antrian, aku dan Ilma pergi ke costumer service untuk bertanya tentang “Masih adakah tempat duduk tanggal 20 21?”, dan mas-masnya bilang masih ada sekitar 40an untuk berangkat dan 20an untuk pulang. Setidaknya, itu membuat kita sedikit lega, karena Desember ini pastilah banyak orang yang berlibur. Lebih cepat lebih baik, bukan?



Selanjutnya, aku dan Ilma kembali ke tempat tunggu dan ternyata kita masih diharuskan untuk menunggu sampai berpuluh-puluh antrian lagi untuk ke loket, padahal kita harus mengikuti les fisika untuk ujian besok pagi. Akhirnya kita memutuskan untuk digagalkan saja. Ulang lagi besok Selasa.
Besoknya, kita ber4 (yang cewe aja) pergi lagi ke stasiun buat ngulang beli tiket. Setelah kita ambil nomor, kita duduk duduk sambil cerita sana sini menunggu antrian. Sampai setelah satu jam, akhirnya nomor kita dipanggil. Kita berbondong-bondong untuk pergi ke loket yang sudah dipersilahkan.

“Nomor antriannya mana ya mba?”
“Ini mba”
“Formulirnya mana?”
“....”
“Mba?”
*bisik bisik* “Formulir apa sih weh?”
“Mba harus mengisi formulir dulu mba di sebelah sana, baru ambil nomor antrian”
“....”
“....”
“Oooh gitu mba, maaf mba kita ngga tau”
“Oke, kalau gitu ambil formulir dulu ya mba... Nomor antrian selanjutnya

Kita mundur. Seluruh pandangan serasa terarah menuju kita berempat. Sementara kita hanya bisa cengengesan. Maklum, dari kita berempat belum ada yang berpengalaman. Dan ilma akhirnya mengambil 11 formulir, aku mengambil nomor antrian lagi. Kita akhirnya harus menunggu berpuluh-puluh antrian lagi.

Kita memutuskan untuk menunggu di salah satu rumah makan, sembari makan dan mengisi formulir. Kita memesan makanan dan sambil menunggu pesanan, kita mengisi formulir yang sudah ilma ambil tadi.
Dan you know what? Ternyata, satu formulir berisi 4 penumpang wkwkwkwk. Jadi cuma 3 formulir aja yang terpakai. Karena 5 orang pulang pergi, dan 3 orang cuma pergi aja.
Dan untungnya, saudaraku memang sedang menjemputku untuk pulang dan sudah menunggu di stasiun. Jadi kutelfon dia untuk memastikan “Sudah nomor urut berapakah di stasiun?” dan katanya di stasiun sudah nomor urut 239, sementara nomor urut kita 241. Tinggal 3 lagi, what?!

So, aku dan ilma langsung cus aja, bawa surat surat dan bawa dompet. Tas dan lain lain kita titipkan ke Celin dan Manti. Padahal saat itu juga pesanan baru aja dateng. Tapi gapapa, kita ngebut ke stasiun. Aku diturunkan didepan gerbang, sementara ilma parkir. Aku sendiri lari ke stasiun, dan loket berbunyi “Nomor urut 242”.

Ngga lagi alay nih, tapi rasanya lemes. Kelebihan satu doang woy.

Ilma nyusul. Setelah mikir-mikir, kita memberanikan diri untuk bilang ke loket 1. “Mas, kita baru dateng dan nomor antrian kelebihan satu, gimana ya?”
“Nanti langsung masuk aja mba kalo ada yang kosong”

Dan setelah menunggu loket yang kosong, kita langsung masuk. Loket 5.
“Mba, tadi kita udah ambil nomor antrian tapi kelebihan satu”
“Nomor antriannya?”
Aku menyerahkan nomor antriannya.
“Oke, mana formulirnya mba”
Aku kemudian menyerahkan formulir yang sudah diisi, namun ...
“Ini Fikri belum ada nomor identitasnya ya mba”
DEG. Piyik emang belum ada nomor identitasnya, tapi katanya bisa diakalin kalo bilang “Mba, anaknya lagi di luar kota”
“Ya coba dihubungin dulu ya mba”
“Kalau ngga ada nomor identitasnya ngga bisa ya mba?”
“Maaf ngga bisa mba, nanti kalau misal sudah jam 4, mbanya ke finnet saja ya karenakioket sudah tutup”

Aku dan ilma akhirnya mundur. Kita duduk di bangku tunggu, sambil ngehubungin Piyik berkalikali, tapi ngga diangkat. Sampai setelah seperempatjam selanjutnya, akhirnya Piyik bilang “wait” sambil mengirimkan KTPnya. Aku cepat-cepat menuliskan nomor identitas Piyik dan kembali ke loket yang kosong. Loket 2.

Aku menjelaskan kembali dari awal sampai akhir kepada mba nya. Dan akhirnya diperbolehkan.
“Nomor antriannya?”
Aku merogoh sakuku. Ngga ada. Merogoh dompetku. Ngga ada.
“Bentar mba”
Ilma juga mencari di saku saku bajunya, namun tidak ada. Kita capek.
“Mba nomor antriannya ngga ada mba, tapi tadi sudah ambil”
“Maaf mba kalau tidak ada nomor antrian ngga bisa”

Kita mundur lagi. Aku dan Ilma lemas seketika.
Aku dan ilma sudah hampir menyerah. “Apa nyoba besok lagi aja Sel?”
Tapi aku kembali mencoba untuk menekan nomor antrian. Namun tidak bisa.
“Kalau sudah lewat dari jam 3 ngga bisa Sel” kata Ilma.

Aku lemas. “Coba lewat finnet yuk”
Kita ke finnet. Mengantri di belakang ibu-ibu yang sedang dibantu oleh petugas untuk membayar pesanan. Setelah seperempat jam, ibu-ibu tersebut bilang “Maaf mba, finnetnya rusak, saya saja dari tadi ngga jadi-jadi”

Astagaa. Aku dan Ilma sudah pasrah.
“Ini kok kaya ngga diridhoi ya il”

Namun Ilma akhirnya bilang “Cari nomor antriannya lagi yuh Sel!”
Akhirnya aku dan Ilma mencari cari ke seantero stasiun. Aku cari dibawah tempat duduk penunggu. Barangkali. Kita udah ngga peduli sama tatapan tatapan orang orang. Nyatanya kita aneh. Nomor antriannya bisa ngga ada gitu aja.
Dan hasilnya, nihil.

Aku dan ilma akhirnya terduduk, sambil bilang ke Celin dan Manti lewat chat, minta tolong untuk dibungkuskan saja pesanannya karena kita udah ngga mood makan.

Dan beberapa menit selanjutnya, Ilma bilang “Sel! Kayanya tadi nomor antriannya dikasih ke mbanya deh, tapi ngga dikembaliin”

What the..... bener juga.
Akhirnya kita buru buru ke loket 5. Dan sampai di loket, lubang loket udah ditutup sama mbaknya pake kalender. Shyt

Namun aku tetap mengetok loket sampai mbaknya menoleh. “Mba, tadi nomor antriannya di mbaknya bukan ya? Soalnya tadi bla bla bla” Aku berusaha untuk menjelaskan semuanya. Mbaknya memasang wajah yang sedikit bersalah, sedikit merasa kasihan kepada wajah kita, sedikit bingung, dan sedikit tidak bisa aku jelaskan dengan kata kata.

“Mba, silahkan bayar di loket 3 aja mba” Dan mbak loket 5 mengkomunikasikan semuanya.
Dan akhirnya kita dipersilahkan untuk membayarnya di loket 3.

Finally.............


Ini pencapaian yang melelahkan. Sungguh.
Setelah mendapatkan tiket, aku dan ilma kembali ke depan stasiun menjemput Celin dan Manti yang membawakan bungkusan makanan. Aku tidak bisa menceritakan semuanya sekaligus saat itu juga. Namun aku bahagia. Kita lega.
Saudaraku menjemputku dan aku pulang.


(Lanjut ke story berikutnya yaa)

  • Share:

0 comments