Pemeran Utama

By Selma Garuda - January 19, 2019

Disini, kamu adalah pemeran utamanya. Dan salam kenal, aku adalah teman barumu.

Sempat terheran-heran saat tanpa sengaja, dari kejauhan aku menangkap tatapan tajam dari sepasang bola mata sosok pemeran utama, terhunus tepat di pandanganku. Dimana saat itu, aku belum mengenalmu.

Kemudian, kesibukanku memaksaku untuk terus bertemu denganmu. Sampai namamu tidak lagi asing di telingaku. Halo kamu, ini aku.

Aku mulai merasa aneh dengan tingkah-tingkahmu. Tentang cara bicaramu, caramu memanggilku, atau cara kamu memandangku.

Dan saat kamu membantuku dalam menulis namaku dan identitasku di lembar kerjaku, menurutku, itu sangat menggemaskan ^^

Namun sepertinya, aku lupa bahwa kamu memanglah Sang pemeran utama. Sudah sepantasnya pemeran utama untuk memberi kesan baik kepada semua orang. Namun, kamu terlanjur memberikan bibit harapan kepadaku, dan aku membiarkannya untuk bersemai.

Yang tanpa sadar, kamupun meninggalkan keheranan yang sangat menyebalkan, sehingga aku terus bertanya-tanya kepada diriku "Lihatlah, dia adalah pemeran utama, bagaimana bisa?"

Kurapalkan kata 'teman' setiap harinya kepada diriku, berusaha meyakinkan hati dan meredakan degup jantungku sejak kamu, Sang Pemeran Utama, memintaku untuk berfoto bersama. "Hanya kamu, dan aku" tambahmu. Dan bibit harapanku tumbuh semakin tinggi. Namun jujur saja, aku takut untuk kecewa, sehingga dengan gigih, aku tetap berusaha menumbangkannya. Mengulang-ulang kalimat;

Ok, aku faham, bukankah itu sesuatu yang biasa dilakukan oleh seorang teman?

Namun, sisi lain dari hatiku masih belum meyakini itu. Sepertinya ada yang salah denganmu, bagaimana bisa Sang Pemeran Utama sepertimu justru terlebih dulu memintaku untuk foto bersama?

Siapalah aku ini?

Hanyalah teman barumu, yang sama sekali tidak mengambil peran. Seseorang yang hanya bisa terkesiap saat melihatmu menari di atas panggung. Dibawah sinar lightning yang dengan megahnya menyoroti setiap gerak gerikmu.

Bibit harapanku sudah berubah menjadi pohon yang menjulang tinggi, disirami oleh berbagai imajinasi indah tentangmu.

Akankah setelah pertunjukan ini selesai, kamu akan menarikku dari kerumunan untuk berdansa bersamamu? Ataukah kamu akan memberiku sebuah hadiah manis di penghujung acara? Memperkenalkanku kepada seluruh penggemarmu, bahwa aku sudah menjadi bagian di dalam pertunjukanmu? Dan bebagai perandaian lainnya yang keluar dari fikiranku tanpa kontrol.

Sampai harapan-harapan itu tumbang seketika, dengan hanya satu kali pukul, oleh sosok wanita lain.

Karena aku telat menyadari, bahwa biasanya, sebuah drama memiliki sepasang pemeran utama. Sepasang. Pemeran utama pria, dan wanita. Dan aku akan tetap berada di kerumunan ini sampai acara selesai. Melihatmu menari-nari bersama pasanganmu.

Rasanya.....
...pedih.

Dan sulit untuk dijelaskan.

Sudahlah. Ternyata benar, bahwa berharap kepada manusia sepertimu akan selalu berujung kepada kekecewaan. Semua harapanku yang kubiarkan bersemai tinggi sudah tumbang tak bersisa.

Sampai akhirnya aku menyadari bahwa ternyata, ini adalah bagian dari sebuah kisah romantis. Semangatku perlahan bangkit, dan mulai kutanam ulang bibit harapan lainnya. Kurawat dengan baik sampai membumbung tinggi tak terhingga. Kali ini, bukan lagi kepada Sang Pemeran Utama.

Namun lebih dari itu, aku menaruh semua harapanku kepada Sang Sutradara, Dzat Yang Maha Esa. Sang Sutradara yang mengatur segala isi pertunjukkan.

Betapa romantisnya Sang Sutradara, yang tidak membiarkan harapanku jatuh kepada orang yang salah. Betapa romantisnya Sang Sutradara, mengingatkanku dengan sentilan kecil, bahwa Dia akan selalu ada, Sang Sutradara yang mengatur segala jalan cerita.

Dan betapa romantisnya Dia, karena telah menyadarkanku, bahwa akupun adalah Sang Pemeran Utama di dalam pertunjukanku sendiri.

Maafkan aku, yang telah menjadikanmu aktor, didalam kisahku.

Halo kamu, ini aku, teman barumu.

Related image
Photo Credit

  • Share:

1 comments