The Day

By Selma Garuda - October 22, 2018



Hari ini, hari bahagia.
Hari ini, hariku dan dia.
Setelah sekian lama menanti,
Hari ini, adalah hari kita berdua.

Ibuku berada di sampingku, Ayahku menungguku di luar.

Aku melihat pantulan diriku di cermin yang berada tepat di depanku.
Sosok wanita berparas cantik sedang melihatku. Wajahnya pucat matanya nanar. Aku rasa, semalam suntuk ia habiskan untuk menangis haru. Tidak menyangka,
hari ini,
    akhirnya datang juga.

Aku bahagia, impian yang telah lama kami nantikan akhirnya dapat kami gapai. Aku merasa, hari ini aku adalah perempuan paling beruntung sedunia. Kasmaran manten anyar, kata orang-orang.

Fikiranku kemudian terbang menuju 10 tahun silam.
Berporos kepada Pria yang awalnya sama sekali tidak aku kenal. Yang tiba-tiba muncul mengambil alih pemeran utama dalam hidupku, dan kemudian menjadi sosok yang aku kagumi serta lambat laun berubah menjadi cinta. Dan tentu saja, perasaankupun tidak berkurang walau sampai akhir hayat.

Siapa yang tega?
Melepas sosok tegas dan berparas rupawan idaman para wanita. Walau rasanya hanya aku seorang yang mengerti, bahwa ia mempunyai hati yang lembut tiada tara. Ia mengayomi, namun kadang terlihat seperti bayi. Pria berkarisma yang tidak jarang menemaniku tuk menangis bersama. Dia kekasihku sekaligus sahabat sejatiku. Dan kami telah berjanji untuk tidak meninggalkan satu sama lain. Selamanya.

Bagaimana bisa? Aku tidak menjadi perempuan yang paling beruntung di dunia?

Aku mencintainya. Dan dia juga mencintaiku.

Kisah cinta kami berdua melebihi kisah Romeo Juliet. Aku yakin, banyak para wanita yang ingin berada dalam posisiku sekarang. Begitupun aku yang sudah menolak antrian para pria yang berusaha untuk melamarku. Dan alasanku untuk menolaknya, siapa lagi kalau bukan dia?

Kalau kamu menganggap aku ini sombong, terserah saja, karena aku memang tidak sedang mengada-ngada, percayalah.

"Sudah siap Nak?" tanya Ibu di sebelahku. Senyumnya sedih, meneduhkan. Ibu haru, aku tahu itu.

Ibuku memelukku. Air mataku menetes. Aku sedang berusaha mendalami peran pengantin wanita yang menangis haru karena persoalan siap tidak siap tuk meninggalkan ayah ibunya.

Ayahku menghampiriku. Dahinya berkerut. Ia malu untuk menangis. Atau barangkali, sudah tidak kuasa lagi untuk menangis.

Aku berjalan didampingi Ibu dan Ayahku di kedua sisiku. Dan kemudian menuntunku menuju ruang akad. Mereka menjagaku seperti gelas yang sangat rapuh. Yang mudah pecah dengan satu kali sentuhan. Ayahku menyibak-nyibakkan gaun putih mewahku yang menyapu lantai, agar aku dapat berjalan dengan leluasa. Ibuku menggenggam tissue, berjaga-jaga untuk terus memperhatikan wajahku ketika air mataku akan jatuh. Ibu, aku akan baik-baik saja, asalkan Ibu tidak melihat kedua pelupuk mataku. Rasanya aku ingin bilang begitu, sungguh, kepada siapapun itu.

Hari ini hari bahagia, rombongan lelakiku ada di depan mata. Menghampiriku. Aku berusaha untuk menampilkan senyum terbaikku. Karena aku masih tidak percaya, akhirnya hari ini datang juga. Pria yang aku idam-idamkan, akan seutuhnya menjadi milikku.

"Nak..." Ibu mengelus pundakku. Ia menangis. Begitupun seluruh hadirin yang menyaksikan. Tangisan haru.

Sedangkan ayahku menuntunku menuju lelakiku. Sampai kakinya terhenti, aku menunggunya untuk terus menuntunku sampai tepat dihadapan lelakiku. Namun selang satu menit aku menunggu, ia tidak kunjung bergerak. Wajah tuanya terus menunduk. Namun perlahan tangannya melepas genggamanku seiring aku yang akhirnya berjalan sendiri menuju pujaan hatiku. Aku rasa ia tidak kuasa untuk melepas putri satu-satunya ini.

Biar saja, biarlah aku yang berjalan sendiri.

Namun nyatanya,

sama saja.

Ternyata akupun tidak bisa.

Langkahku terhenti.
Kakiku lemas.
Tanganku bergetar.
Dan aku terduduk diantara puluhan sorot mata yang menghunjamiku.

Tanpa kusadari air mataku telah mengucur deras. Membanjiri make-upku yang sudah tidak lagi karuan. Kali ini aku tidak peduli. Aku ingin berteriak, namun suaraku tercekat.

Aku hanya bisa menangis. Tanpa suara. Saat peti yang teronggok dihadapanku itu dibuka perlahan. Dan tampak sosok rupawan yang sangat kukenali dan aku cintai. Sosok tegas nan lembut. Sosok yang bersahabat. Sosok yang telah berjanji untuk tidak meninggalkanku selamanya itu kini telah terbaring pucat didalam peti. Menutup matanya dan mustahil untuk terbuka lagi.

Lelakiku,

sudah tiada.

Dan benar saja. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan sekarang kecuali menangis. Sampai aku tidak bisa lagi untuk menangis, barangkali.

Selamat jalan lelakiku.

Kita akan kembali bertemu,

tenang saja.

Photo Credit

  • Share:

2 comments