The Climb - Lika Liku Menuju Bangku Perkuliahan

By Selma Garuda - July 19, 2018




Hmmm. Bismillah.. Ini mungkin akan menjadi postingan yang panjang setelah sebelumnya aku pernah bercurcol ria di bagian pertama. Dan postingan kali ini sebenarnya hanya dalam rangka mengenang suatu perjuangan saja. Agar suatu saat dapat aku baca ulang, terlebih dapat kalian ambil hikmahnya.  Hufff. Tarik nafas, keluarkan~

Di bagian pertama, aku menulis tentang seperangkat kegalauan, kebingungan, kekecewaanku yang begitu dahsyatnya ea. Karena aku gagal SNMPTN / jalur undangan. Di jalur itu, aku benar-benar nekat karena mungkin aku memang tidak tahu diri. Menginginkan sesuatu yang besar dengan realita yang sama sekali tidak memadai. Hmm, mungkin agak memadai siiih. Namun, begitu banyaknya peminat membuatku yang kecil ini menjadi tergeser jauhhhhhhh dari batas minimal. Seharian setelah pengumuman, aku meratapi kenekatanku tersebut, tapi alhamdulillah Allah membuatku kembali bahagia karena keluargaku di undang di acara Jakarta International Jewelry Fair. Yang dengan sekejap membuatku lupa dengan segala kekecewaanku. Pemandangan di kereta membuat sirna seluruh kegalauan, sungguh. Membuatku berfikir bahwa dunia ini benar-benar lapanggg, disamping hatiku yang saat itu sedang menyempit.

Kemudian setelah sampai di Jakarta -tepatnya di hotel Sultan lantai 8 kalau ngga salah-, aku disuguhkan dengan pemandangan kota Jakarta dengan gedung gedung tinggi bak pohon pohon beton. Sekali lagi, itu membuatku melupakan segara kerisauanku. Dan mulai mencari plan b untuk kedepannya. Melihat view di Jakarta, jujur saja, aku sempat punya feeling 'kayaknya aku bakal balik lagi nih ke kota ini', yaa siapa yang tahu kan?


Pemandangan dari kamar hotel.
Aku searching tentang perguruan tinggi swasta yang ada di Jakarta. Saat itu, aku tertarik dengan UPH dan juga Kwik Kian Gie, yang orientasinya tidak keluar dari minatku. Pun masih berharap dengan perguruan tinggi negeri. Lagi lagi, aku nekat untuk mencoba SIMAK UI. Detik itu, aku langsung mendaftar SIMAK dengan harapan yang besar.

Ohya! Akupun masih berharap tentang SBMPTN. Seleksi bersama yang akan diadakan beberapa minggu setelahnya. Di Jakartapun, aku membawa beberapa buku latihan soal SBMPTN untuk dipelajari di hotel serambi menunggu orangtuaku melihat pameran.

Kegiatanku di Jakarta itu benar-benar membuka lebar hatiku untuk menjadi lebih lapang. Beneran, ga boong..

Beberapa minggu setelahnya, aku mengikuti test SBMPTN dan mendapatkan panlok di SMA 3 Purwokerto. Disana, ada salah satu kenalanku bernama Lala, dan juga teman-temanku dari SMA ku sendiri. Salah satunya adalah Aul.

Aku dan Aul sama sama dari IPA tapi pengin lintas dan ambil jurusan soshum. Dan siapa sangka? Ternyata Aul juga daftar SIMAK yang lokasi testnya sama denganku, di SMA Muhi Yogyakarta.

Tahun ini, penilaian SBMPTN berubah. Tidak seperti penilaian di tahun sebelumnya yang mana salah=-1 benar=+4 kosong=0. Tahun ini, salah atau kosong=0 sementara benar=+1. Itu membuat beberapa kalangan menjadi berfikiran bahwa 'Kalau gitu, isi semua aja dong biar ga rugi, siapa tau bener'. Tapi, ada pula beberapa kalangan yang menganggap bahwa 'Teori Respon Butir tidak segampang itu'. Dan yeah, aku mempercayai kalangan yang kedua.

Saat test SBM berlangsung, asmaku kambuh. Aku memang mempunyai asma yang kambuh kalo lagi khawatir -_- Dan telapak tangankupun terus-terusan berkeringat. Aku minus dan lupa bawa kacamata. Komplit sudah. Tapi ada satu hal yang menyenangkan. Aku pulang ke kos naik Go-jek, dan di perjalanan pulang, mas go-jek mendoakanku :) Terimakasih mas go-jek, sudah membuat hatiku menjadi lebih tenang.

Sama halnya dengan test SIMAK. Soalnya sudah bisa ditebak. Susah.

Dan waktu terus berlanjut. Hari pengumuman SBMPTN menjadi semakin dekat. Setiap malam aku diserbu oleh panic attack hebat!

Bahkan sebelum pengumuman berlangsung, aku sudah menangis karena memikirkan hal-hal yang tidak diinginkan. Sampai Bapak terlihat kewalahan melihatnya :' Tapi setidaknya aku masih sempat tertawa karena Bapak bilang gini;

"Bapak bilang ke panitia SBMnya ya? Pengumumannya ditunda aja karena ada yang belum siap" Huhuhu garing sih Pak, tapi lucu :'v

Tapi nyatanya, tidak sesuai dengan harapanku, dan fikiran itu kembali menjadi kenyataan.

Aku disuruh tetap semangat.

Singkatnya, aku tidak lolos SBMPTN.

Woaaaa nangis deh aku! Bapak jadi lebih kewalahan karena nangisku sampai sesenggukan :' Terus Mamapun ikut menenangkan, padahal lagi ada tamu X'D Yang kemudian sang tamu, Bu Tanti (Tanteku) ikut menenangkanku. Look how childish i am.

Namun jujur saja, tangisku kali ini tidak sehebat saat aku tidak lolos SNMPTN. Mungkin karena dulu, aku sendirian di kos. Sementara sekarang, aku dikelilingi oleh mereka semua. I'm cry, but i'm just cry, i am fine.

Begitupun dengan SIMAK. Aku tidak lolos. Namun di pengumuman kali ini, aku sama sekali tidak menangis, karena aku sudah menetapkan hati untuk 'coba-coba aja' waktu itu.

Mereka menasihatiku dan menyemangatiku kembali. Tapi jujur saja, saat itu aku sedang tidak mood untuk kembali belajar. Otakku sudah cape untuk kembali menerima drill soal-soal UM. Jujur saja, saat itu aku seperti mati rasa. Alay sih, tapi emang benerannn.

Dan yang hanya bisa aku lakukan saat itu hanyalah memohon pertolongan kepada Tuhan.

Satu-satunya pelajaran yang aku jelajah saat itu adalah bahasa Inggris. Karena aku 'kembali nekat' untuk mendapatkan UGM lewat jalur UM.

Cerita tentang UGM, ada beberapa fakta yang menyenangkan. Sejak kecil, aku memang ingin bersekolah di UGM. Faktornya ada banyak;

Pertama, jelas banget karena mau cari ilmu yang bermanfaat, menjadikan diri ini menjadi pribadi yang lebih baik.

Kedua, karena UGM ada di Jogja. Dimana dari kecil aku sering menghabiskan liburanku di rumah mbah. Keliling keliling Jogja rasanya tidak pernah membuatku bosan.

Ketiga, karena almarhum Mamasku bercita-cita untuk sekolah di UGM. Namun sayangnya, cita-cita itu tidak akan pernah kesampean karena Allah lebih dulu mengambil jiwa Mas Kemal.

Keempat, Bapak rupanya ingin punya anak yang bisa bersekolah di UGM hehehe. Dulu, dia sempat menempelkan stiker UGM di akuarium rumah untuk Mas Kemal. Dan saat pertama kali aku dibuatkan facebook oleh Bapak ( kelas 4 SD ) biodata pendidikanku diisi dengan UGM. -yang beberapa hari lalu sempat mau aku ganti karena minder :)


Kelima, seluruh anak kelas, -atau mbleber-mbleber ke kelas tetangga, atau tetangganya lagi- bahkan guru-guru, tahu kalau aku mempunyai keinginan tuk melanjutkan kuliah di UGM. Layar hapeku aku ubah dengan background FEB UGM, trus aku dan teman-temankupun sampe jalan jalan ke depan tulisan UGM di postingan ini bagian bawah XD ga sampai situ aja, akupun memasang papan tulis bertulisan FEB UGM di dinding kamar kos. Padahal minder juga sih kalau dilihat sama ibu kos, temen kos, temen-temen yang mampir ke kos. Tapi bodoamat lah ehehe~

Iya, segitu inginnya aku untuk bersekolah di UGM.

Namun terlepas dari itu semua, setelah kembali dari Jakarta, akupun mendaftar Prasetiya Mulya -salah satu perguruan tinggi swasta di daerah Tangerang Jakarta. Karena ada salah satu rekan ibuku yang menyarankanku untuk mencoba PTS tersebut. Selain itu, Bapak menjadi lebih sreg jika aku di Unsoed saja. Selain dekat dengan rumah, aku bisa 'nyambi' bantu bantu ortu di toko. So, untuk 'jaga-jaga' aku mendaftar kedua perguruan tinggi tersebut. Dengan saran Bu Gede Ida, aku akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar Kelas Internasional Manajemen dan Kelas Internasional Unsoed karena peluang masuknya lebih besar daripada reguler. Walaupun dengan english skill yang pas-pas an.

Hari terus berlajut sampai hari dimana aku harus mengikuti UTUL UGM. Ujian Mandirinya UGM. Setelah meminta doa kepada mbah kakung dan mbah putri, aku menuju lokasi test di Univ Proklamasi. Aku sama sekali tidak berharap. Dan memantapkan hatiku agar 'coba-coba saja'. Ketrima alhamdulillah, tidak juga tidak apa apa.

Dan fikiran negatif kembali menggerogotiku ketika aku tahu bahwa 'Peserta UTUL UGM 66.000 disamping yang keterima hanya 2.000' waw. Tapi lagi-lagi, ada satu hal yang menyenangkan untukku. Sebelum test, untuk mengganjal lapar, aku memutuskan untuk beli magelangan di kantin Univ Proklamasi. Ibu Kantinnya mendoakanku dan membuatku menjadi lebih sedikit tenang. Terimakasih Ibu Kantinnn.

Selesai test, Bapakpun sempat bertanya "Mau jalan jalan ke UGM nggak nih?" yang secepatnya langsung aku tolak sambil ketawa miris :') Mama juga bilang "Udah lupakan aja sel, peluangnya nol koma" yang diikuti dengan anggukanku.

Tidak sampai situ, sehari setelah UTUL, aku harus kembali berangkat ke Jakarta untuk mengikuti ujian Prasmul. Naik kereta dan dijemput oleh Pak Khanif (saudara) di stasiun Jatinegara. Nyewa mobil dan menuju ke daerah BSD Tangerang. Sampai di hotel Airy pukul 11 kurang lebih. Dan tidur ngga lebih dari 3 jam

Jam 6 udah berangkat dari rumah menuju lokasi test karena takut macet. Sampai di sana masih sepi dan tergasik. Harus menunggu satu jam lagi. Sambil nunggu, jalan jalan dulu deh.

Yang test siapa yang foto siapa :3 IF : Mama

Setelah akhirnya dipersilahkan untuk masuk, akhirnya Mama pamit untuk balik ke hotel, persiapan check out berhubung pengantar hanya diperbolehkan sampai depan lift saja. Dan yeaaa, aku sok cool aja deh walau dalam hati sebetulnya minder juga.

Aku bersama dengan 'teman-teman seperjuangan' lainnya segera memasuki lift dan menuju ke lantai 12. Ruangan dimana nantinya akan menjadi tempat kami bertarung. Yaaa walau aku hanya 'coba-coba saja'.

Sejauh ini, test ini adalah test paling favorit yang pernah aku tempuh. Ada test psikotest, matematika, english, dan gambar! Ruangannya pun nyaman, ber ac, luas, dan viewnya keren banget!

Menurutku sendiri, test psikologi dan matematikanya tergolong mudah. Namun, harus dikerjakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya tanpa diberitahu. Tidak ada sistem minus.

Untuk english test nya sebenarnya mudah kalau sebelumnya belajar grammar. Dan Alhamdulillah, sebelum UTUL aku sempat membahasnya walau dalam kategori dasar. Ada readingnya juga.

Nah, menurutku test gambar ini benar-benar membantu aku yang terkadang kalau lagi bosen malah nggambar. Bahkan buku tulis pelajaranku waktu SMA banyak coretannya XD Jadi, di dalam test ini peserta diperintahkan untuk menggambar badan manusia dari rambut sampai kaki. Kemudian disediakan puluhan lingkaran kecil dimana kita diperintahkan untuk membuat lingkaran tersebut menjadi suatu bentuk (dengan lingkaran yang menjadi bentuk utama). Aku menggambar apa saja yang terlintas di dalam otakku. Ada jam, roda, bunga, matahari, bahkan sampai obat nyamuk :')

Sejauh ini, aku menjadi sedikit pede. Namun kembali teracuni oleh fikiran buruk saat mengingat bahwa aku sendiri saja sudah gelombang 8 :'v

Tapi, yang sudah ya sudah lah, wong ga bisa ngapa ngapain lagi kan ya selain tawakal. Selesai test, aku dan keluargaku menyempatkan diri untuk melihat planetarium. Sebetulnya ini udah melenceng dari topik sih, tapi kalian harus tahu kalau aku nangis bahagia walaupun hanya sekadar ngeliat bintang bintang buatan. Ya Allahhhh baguuuusss bangeetttt :'D

Dan sepulangnya di rumah.. aku rehat sejenak. Sudah tidak ada test lagi yang menungguku. Aku hanya tinggal menunggu hasil dari Prasetiya Mulya, UGM, dan Unsoed non test. Sudah tidak ada yang bisa aku lakukan lagi selain bertawakal setelah berikhtiar. Setiap malam aku tahajud, memohon ampun dan pertolongan. Pun saling mendoakan bersama dengan teman-teman seperjuanganku yang lainnya.

Sampai tanggal 16, jam 4 sore, Bapakku yang saat itu sedang di luar kota, mengabariku lewat telfon. "Loh Sel? Bukannya Prasmul hari ini pengumuman?"

Deg.

Aku buru-buru mengecek jadwal. Karena seingatku pengumuman Prasmul tanggal 26. Tapi...
ternyata Bapak benar!

Aku buru-buru buka web resmi untuk melihat hasilnya. Tanganku dingin. Beneran. Dan....


Melihatnya, aku langsung berteriak ke Mama dan tersenyum lebar. Setelah mengalami seruntutan penolakan, akhirnya ada juga yang mau menerimaku huhuhuhu (':

Namun, setelahnya, aku menjadi kembali ragu. Tidak jarang juga aku khawatir. Aku tahu, seharusnya aku tidak begitu. Namun terlepas dari semua itu, rasanya lebih banyak tenangnya ketika aku mengingat Allah. Mengingat masih banyak jalan yang dapat ditempuh.

Bahkan tanggal 17, aku menuliskan seluruh keraguanku di dalam buku catatan.

Click for zoom in

Click for zoom in
Rasanya tenang jika percaya bahwa Allah sedang menyiapkan hal yang terbaik untuk kita. Dan percaya bahwa setiap satu kesulitan saja pasti akan dibayar dengan kemudahan yang berkali-kali lipat.

Karena yang paling tahu mana yang terbaik itu bukanlah kita. Kita hanya sok-tahu saja sebenarnya. Maka dari itu, aku sudah bertekad untuk menyerahkan diri seutuhnya atas segala keputusanNya. Besok jam 10 malam adalah hari dimana pengumuman ujian tulis UGM diberitahukan.

Dan tanggal 18, aku berusaha untuk pura-pura lupa. Aku menyibukkan diri seharian. Atau lebih tepatnya 'sok sibuk'. Sampai akhirnya pada jam 7 malam orang tuaku mengajakku untuk sekalian makan di luar karena sebelumnya memang ada urusan tersendiri. Jam setengah 10 tiba, aku masih pura pura lupa. Sampai salah satu temanku berkata di grup;

"Heeee aku terharuuu"

Aku deg-degan banget sih sungguh. Keringat dinginku mulai bercucuran. Sesak! "Kenapa cha?"

"Ugmmm, aku nangis he..."

"Kamu masuk? Udah pengumuman?"

"Alhamdulillahhh d3 manajemen"

Tanganku dingin, walau dalam hatiku aku terus memantapkan 'aku tidak berharap, aku tidak berharap'. Icha masuk UGM, bagaimana denganku? Tanganku tremor! Dan...


"Pak!!! Ini beneran ngga sih?!" tanganku tambah dingin! Aku ingin nangis Ya Allah... sungguhhhh. Aku nangis haruuu. Allah menjawab semua doa-doaku.... Terimakasih ya Allahh... Nikmat mana lagi yang hamba dustakan? :''''''') Mama, Bapak ikut tertawa bahagia. Kemudian telfon Mbah Yuti untuk mengabarkan.

"Alhamdulillahhhhh aku masuk UGM ..."

Ya Tuhannn, ini benar-benar indah. Terimakasih atas segala keajaiban yang engkau berikan. 0 koma. 2.000 banding 60.000! Aku tidak akan sampai disini jika tidak ada campur tangan olehMu. Engkau memang Mahabaik!

Dan aku menjadi percaya bahwa setiap kesulitan memang akan terbayar dengan kemudahan yang sebanding, bahkan lebih, karena Allah Mahabaik. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan kecuali menangis. Menangis haru, menangis bahagia.

Jujur saja, aku memang benar benar bahagia. Dan menjadi sebahagia itu membuatku tidak bisa tidur sampai jam 3 pagi. Pun keesokan harinya, yang mana adalah hari ini, teman-temanku di whatsapp ribut saling mengingatkan bahwa 'Pengumuman Unsoed udah bisa dilihat. Dimajuin'. Sebelumnya aku mendapati kendala karena lupa no pendaftaran :') Namun akhirnya ketemu juga di kartu yang untungnya sudah aku cetak.


Dan Alhamdulillah. Rasanya luar biasa... Aku seperti sedang ditonjok bertubi-tubi karena sebelumnya aku banyak tidak percayanya.. ya Tuhannn :')

Mungkin pula, selain bisikan doa-doa dari diriku yang selalu kupanjatkan tiap malam, terdapat doa yang mampu melesat dengan hebat dan cepat menembus langit.

Teruntuk Mama,
Terimakasih banyak... yang selalu membesarkan hati Selma ketika sedang benar-benar down. Yang mengajarkan Selma untuk selalu 'woles aja' dalam menangani segala permasalahan. Yang selalu menjadi alasan Selma untuk selalu bangun dan menjalani hidup di setiap harinya.

Teruntuk Bapak,
Terimakasih banyak... karena tidak membebankan sesuatu hal yang berat kepada Selma. Karena telah berhasil membuat hati ini menjadi lapang. Karena pastinya selalu berhasil membuat hati ini menjadi tenang jika berada disisimu.

Teruntuk Ibu Kos,
Selma ngga sengaja ngelihat nama Selma yang ditulis di kertas dan di tempelkan di depan tempat sholat. Selma ngga sengaja mendengar tangis Ibu setiap jam 3 malam. Terimakasih Bu :')

Teruntuk keluarga besar, Mbah hamo, Mbah uti, Mbah Yuti.. Keluarga Jogja yang menjadi saksi bolak-baliknya aku untuk sekedar mendapatkan bangku di perkuliahan, Keluarga Bogor atas doanya, Bantul, Keluarga besar Sampang.. Bu Gede Ida yang sudah membantu untuk mencari informasi seputar perkuliahan.

Teruntuk rekan rekan, seperti kerabat dekat, Om Agus, Mbak Visa, Mba Dhea, Mbak Wardah, Mbak Ulfah, Bu Tanti, Hilman, Mas Ziyan, dan yang lain sebagainya huhuhuuhu udah kayak pembukaan pidato aja ya :'''''

Teruntuk teman teman yang saling support, imj, weast, eiger, optimis, dan yang lainnya.. tanpa kalian aku hanyalah anak yang kurang motivasi... percayalah.

Teruntuk Ibu Kantin Univ Proklamasi, mas-mas gojek, mas-mas taksi, dan orang-orang baik lainnya yang sudah dengan ikhlas mendoakanku. Semoga kebaikan menyertai kalian semua :')

Akhir kata, tetap percaya akan keajaiban dan berbaik sangka kepada Tuhan. Karena Dia sedang menyiapkan segala urusanmu dalam taraf yang terbaik, tanpa kau sadari...

Dan beberapa hal yang membuat aku terharu :'( Makasih teman-teman...



Babag selanjutnya baru akan dimulai!

  • Share:

8 comments

  1. T^T Alhamdulillah, Sel. :" Daku ikut (nangis) bahagia eyy T^T

    Udah lama pengen nanya, tapi gak sempat-sempat X'D

    Pokonya, selamat ya! Gagal berkali-kali, berhasil berkali-kali juga, wkwk X"D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillahhhh, makasih Viraa
      Uluu jangan ikut nangis Vir :''''D Kamu tidak akan kuat biar aku sajaa :'

      Delete
    2. Udah nangis :"> Aku sudah kuat, biarkan saja .. - w - )/ ulululu

      Delete
  2. aku bacanya pas mau bagian pengumuman ugm itu ikut deg degan banget :"D Selamat ya kak! aku juga pengen masuk ugm :'

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih Naiii, yuk semangaaattt aku tunggu Nai di ugm! :D

      Delete
  3. Im Malaysian so I dont understand few words. haha. but its okay. I wish you all the best for your studies. And dont ever give up.

    ReplyDelete
    Replies
    1. It doesn't a matter at all, at least you got the point ;) Thankyou so much for your wishes, hope it'll back to you too :D

      Delete