PLUVIOPHILE


# Teruntuk; Mas
April 15, 2018 / permalink
Kepada Mas:
Si pengumpul rindu.

Di luar hujan, Mas.
Lalu dengan sendirinya, serentetan memori lama dalam otak kembali muncul. Apalagi kalau bukan tentang Mas, aku, dan juga mereka.
Kuharap, Mas masih ingat dengan segerombol bocah ingusan berseragam merah putih yang harus melindungi kepala dan keduakaki mereka dengan plastik keresek agar tidak terkena hujan, apalagi jalanan saat itu belum diaspal dan masih becek. Namun mereka berjalan kaki dengan wajah riang gembira. Karena jujur saja, itu terasa sangat mengasyikan bagi mereka.

Mas tahu, aku ini anak ciwek. Jadi, setiap kali aku menangis, Mas selalu mengumpulkan mereka untuk berkumpul di rumah, hanya sekedar untuk bermain PS. Walau dulu stik PS dedek nggak Mas pasang, tapi dedek tetep seneng, karena memang waktu itu dedek belum tau.
Tapi beneran deh, Mas memang yang paling tahu, bahwa untuk membuat dedek senang itu simpel saja, contohnya ya dengan kedatangan mereka, membuat suasana menjadi terasa hangat.

 Yuk ingat kembali Mas, saat kita semua bersepeda keliling desa. Ketika aku baru barunya merasa lihai dalam sepeda roda dua, tapi ternyata aku malah jatuh di pertigaan yang akhirnya membuat lututku berdarah. Mas panik. Dan kemudian membuat mereka otomatis bersenandung layaknya paduan suara. "Hayuuuu dedek nangis, dedek nangis" Mas tambah panik. Muka Mas lucu waktu itu.

Atau tentang kita semua yang berkumpul hanya untuk bernyanyi bersama diiringi gitar dan juga organ. Atau seharian berada di dalam studio musik untuk sesuatu yang lebih serius. 


Gimana Mas? Apa Mas kangen?

Kalau dedek sih, kangen berat Mas.

Karena dedek tahu bahwa itu semua nggak bakalan bisa diulang lagi.

Dedek besok Mei udah 17 tahun Mas. Waktu memang terlihat terbang terlalu cepat. Dan untungnya, mereka sudah tidak memanggilku dengan sebutan 'dedek' lagi. Malu dong, kan sudah bukan bocah ciwek gupis ingusan lagi, hehe.

Aku kasih tau nih ya Mas.

Mereka benar benar merasa kehilangan. Bahkan ada yang menjerit histeris saat tahu bahwa nyatanya, Mas meninggalkan kami semua terlebih dahulu.

Dan setelah kepergianmu, beberapa hal sudah tidak lagi sama.

Mungkin karena mereka sudah beranjak dewasa Mas. Begitupun aku.

PS 2 yang dulu kita mainkan sudah sepenuhnya kuberikan kepada anak salah satu kerabat beserta dengan memori memorinya.

Sepeda tandem, sepeda Mas, sepeda dedek, masih tersimpan rapi di gudang.

Studio musik kosong. Semua instrumen sudah Bapak pindahkan entah kemana. Yang terakhir ku lihat, sejumlah gitar sudah tidak lagi bersenar. Beberapa drum sudah bolong bolong dan bassdrumnya hilang. Peredam suara di dinding sudah banyak yang mengelupas. Hancur aku melihatnya Mas.

Gitar tua dan organ Mas sudah aku selamatkan. Masih sering kumainkan kok Mas sampai sekarang, dan semoga sampai kapanpun. Sentimental value.

Sudah tidak ada lagi yang namanya berkumpul hanya sekedar untuk bermain PS, feeding frenzy, pizza frenzy, insaniaquarium, the sims, bully, gta S.A, guitar herro, bmx, atau yang sebangsanya. Terlalu banyak jikalau disebutkan satu satu Mas, hehe.

Yang pasti, orientasi kami semua sudah beda, Mas.

Mas Ziyan sedang bergelut dengan dunia bisnis. Semoga bisnisnya selalu dilancarkan. Karena dia orang baik Mas, tidak terlalu nakal seperti dulu. Dia bahkan pernah bilang "Kalau ada apa apa, bilang ke Mamasmu yang satu ini saja".

Dan juga dengan Mbak Wardah yang sedang sibuk kuliah di Solo. Dia terlihat lebih cantik dengan gamis panjang dan keistiqomahannya. Mas, aku iri dengannya.

Lalu Hilman? Dia sedang berjuang untuk USBN di sekolahnya. Dia sekarang sudah bukan bocah pendek yang tidak fasih bicara 'rrrr' Mas. Lebih dari itu, dia sudah menjadi remaja yang dapat membantu kehidupan keluarganya sebagai salah satu tulangpunggung bersama kakaknya, Mas Ziyan.

Semua sudah tidak lagi sama Mas.

Sering dedek berandai, tentang bagaimana jika kita berkumpul lagi untuk menyelesaikan beberapa misi yang ada didalam PS2 itu? Akan kupastikan bahwa stick PSku sudah terpasang dengan baik.
Dan bagaimana jika kita melupakan segala masalah untuk sesaat dan berlarian dibawah hujan dengan memakai keresek sebagai penutup kepala?
Atau bagaimana jika kita bersepeda bersama keliling desa dengan sepeda tandem? Kujamin, dedek tidak akan terjatuh lagi Mas. Wong sekarang saja dedek sudah bisa naik motor kok.

Tidak perlu dijawab. Dedek sudah tahu jawabannya.

Semua sudah tidak lagi sama. Hahaha, sudah berapa kali aku mengatakannya?

Jujur saja, air mata dedek sudah tidak kuasa lagi untuk tumpah. Tidak keren sekali dedek ini. Ternyata, dedek masih terlalu childish Mas, walaupun beberapa hari lagi, dedek sudah menginjak usia tujuh belas.

Sayang sekali, tahun ini kita tidak bisa merayakannya bersama lagi ya Mas. Sudah 8 tahun lebih kita tidak pernah bertemu. Tuhan memanggil Mas lebih dulu. Pasti karena Tuhan rindu banget sama sosok Mas. Ya kan Mas? Surga memang lebih pantas untuk sosok seperti Mas.

Pokoknya Mas, banyak hal yang sudah terjadi. Salah satunya tentang masalah pribadi dedek dan juga mereka. Kuceritakan nanti saja ya Mas kalau kita bertemu!
Inshaa Allah.
Sabar saja Mas.

Aku dan Mereka !

Salam sayang,
Dedek❤

Midnight, 00:38

Labels: ,


0 comment(s) on current post.